Dosen FES ikuti program Erasmus+ Staff Mobility di Fire University Polandia

Tiga dosen Universitas AMIKOM Yogyakarta mengikuti program Erasmus+ Staff Mobility for Training di Fire University, Warsawa, Polandia, pada 12–16 Oktober 2026. Kegiatan ini bertujuan mengembangkan kompetensi dosen dan memperkuat pertukaran pengetahuan melalui pemaparan akademik, diskusi, serta pengenalan fasilitas pendidikan dan penelitian institusi mitra.

 

Delegasi tersebut terdiri atas Gardyas Bidari Adninda, S.T., M.A., dari Program Studi S1 Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Sains dan Teknologi; Aditya Maulana Hasymi, S.IP., M.A., dari Program Studi S1 Hubungan Internasional, Fakultas Ekonomi dan Sosial (FES); serta Eli Pujastuti, M.Kom., dari Program Studi S1 Informatika, Fakultas Ilmu Komputer.

 

Erasmus+ Staff Mobility for Training merupakan program mobilitas yang memberikan kesempatan kepada staf perguruan tinggi untuk belajar dan bertukar pengalaman di institusi mitra. Dalam kegiatan ini, delegasi mengenal sistem pendidikan Fire University yang berfokus pada penyiapan tenaga pemadam kebakaran, penyelamatan, dan keamanan.

 

Program tersebut turut mempertemukan delegasi Universitas AMIKOM Yogyakarta dengan perwakilan Kosovo Academy for Public Safety dari Kosovo dan Burgas State University “Prof. Dr. Asen Zlatarov” dari Bulgaria. Peserta mengikuti pengenalan unit pemadam dan penyelamatan, proses pembakaran, layanan medis darurat, penyelamatan kimia dan ekologi, serta peralatan penyelamatan.

 

Selain mempelajari kegiatan institusi tuan rumah, para delegasi mempresentasikan profil kampus dan inisiatif masing-masing. Pertukaran pengalaman ini membuka ruang untuk mengenali bidang kolaborasi serta mengembangkan peluang mobilitas staf, mahasiswa, dan proyek bersama.

 

 

Aditya: Kebakaran Juga Persoalan Keamanan Manusia

 

Bagi Aditya, pengalaman di Fire University memperluas cara pandangnya terhadap keamanan manusia atau human security. Dari perspektif Hubungan Internasional, ia melihat bahwa perlindungan manusia dari kebakaran memiliki keterkaitan erat dengan kajian ilmu sosial.

 

Dalam wawancara setelah kegiatan, Aditya menjelaskan bahwa pembahasan keamanan manusia sering diarahkan pada konflik, perang, pengungsi, dan migrasi. Pelatihan di Polandia mengajaknya mencermati ancaman lain yang dekat dengan kehidupan sehari-hari dan membutuhkan perhatian serupa.

 

“Keamanan manusia sebenarnya urgensinya bukan hanya soal menyelamatkan manusia dari konflik atau wilayah perang, tetapi juga tentang bagaimana menyelamatkan mereka dari api atau kebakaran,” ujar Aditya.

 

Ia menyoroti bahwa kebakaran dapat mengancam masyarakat di permukiman maupun kawasan hutan. Dampaknya pun dapat meluas melewati batas wilayah. Asap kebakaran hutan, misalnya, dapat menjangkau negara tetangga sehingga berkaitan dengan persoalan keamanan dan kerja sama internasional.

 

Pembelajaran tersebut menjadi bahan refleksi bagi Aditya untuk memperluas pembahasan keamanan manusia di lingkungan FES. Ancaman yang dihadapi masyarakat sehari-hari dapat menjadi pintu masuk untuk memahami hubungan antara keselamatan, kehidupan sosial, dan tanggung jawab berbagai pihak.

 

Memahami Penyelamatan melalui Teori dan Praktik

 

Aditya menceritakan bahwa proses belajar selama program menggabungkan pemaparan profesor dengan kunjungan ke laboratorium dan fasilitas pelatihan. Melalui pendekatan tersebut, peserta dapat melihat hubungan antara pengetahuan akademik, pengembangan teknologi, dan penerapannya dalam penyelamatan.

 

“Kita teori di kelas dengan profesor, praktikum juga masuk ke laboratorium-laboratorium mereka,” tuturnya.

 

Peserta memperoleh pengenalan kendaraan dan peralatan pemadam kebakaran, pengembangan pakaian pelindung, fasilitas pengujian terkait tekanan dan potensi ledakan, serta pertolongan pertama. Bagi Aditya, pengalaman itu memperlihatkan luasnya pengetahuan yang mendukung pekerjaan pemadam dan penyelamatan.

 

Di balik penanganan kebakaran, terdapat penelitian mengenai karakter bahaya, efektivitas tindakan, dan perlindungan petugas maupun korban. Dari sudut pandang ilmu sosial, seluruh proses tersebut memiliki perhatian yang sama, yakni keselamatan manusia.

 

Menghubungkan Pembelajaran dengan Kebutuhan Masyarakat

 

Aditya melihat peluang membawa pengalaman tersebut ke ruang kelas dan kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Pembahasan keamanan manusia dapat dihubungkan dengan persoalan yang dekat dengan mahasiswa, mulai dari risiko kebakaran di lingkungan tempat tinggal hingga dampak pembakaran sampah dan kebakaran hutan.

 

Menurutnya, edukasi mengenai bahaya kebakaran juga membuka ruang kontribusi ilmu sosial bersama bidang teknik dan sains. Perhatian terhadap keselamatan masyarakat memerlukan pemahaman tentang manusia yang menghadapi risiko serta upaya membangun kesadaran terhadap bahaya di sekitarnya.

 

Melalui pengalaman Erasmus+ ini, Aditya memperoleh perspektif baru untuk menghubungkan kajian Hubungan Internasional dengan kebutuhan masyarakat. Ia berharap pembelajaran tersebut dapat dikembangkan menjadi pengayaan materi perkuliahan dan kegiatan pengabdian, sehingga manfaat program mobilitas internasional turut menjangkau mahasiswa dan lingkungan sekitar.

 

Fadya RY – Direktorat Kehumasan dan Urusan Internasional
In Collaboration With : Aditya Maulana Hasymi