Kuliah Umum Perencana Bahas Tata Ruang Tangguh Bencana

Kuliah Umum Perencana Bahas Tata Ruang Tangguh Bencana

Universitas AMIKOM Yogyakarta menggelar Kuliah Umum Perencana bertema “Ketahanan Bukan Kebetulan: Merancang Ruang, Mengurangi Risiko, dan Menguatkan Indonesia Menghadapi Bencana” di Cinema Universitas AMIKOM Yogyakarta, Kamis (5/11/2026). Melalui pemaparan materi dan diskusi, kegiatan ini mengajak mahasiswa memahami peran perencanaan wilayah dan kota dalam mengurangi risiko bencana serta memperkuat kemampuan masyarakat untuk pulih.

 

Kuliah umum menghadirkan Dr.rer.nat. Arry Retnowati, S.Si., M.Sc., dari Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada dan Gardyas Bidari Adninda, S.T., M.A., dosen Program Studi S1 Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas AMIKOM Yogyakarta. Ni’mah Mahnunah, S.T., M.T., memandu pembahasan yang menghubungkan pemahaman karakter wilayah, pengalaman masyarakat terdampak bencana, dan pembelajaran penanganan kebencanaan dari luar negeri.

 

Dalam sambutannya, Dekan Fakultas Sains dan Teknologi Universitas AMIKOM Yogyakarta, Sudarmawan, M.T., mengajak mahasiswa mengikuti kegiatan dengan perhatian penuh. Ia menekankan pentingnya memperoleh pemahaman dari pengalaman panjang para narasumber sebagai bekal untuk menjadi perencana yang mampu berkontribusi bagi masyarakat.

 

Memahami Ancaman Sebelum Menata Ruang

 

Arry mengawali pemaparannya dengan menjelaskan dinamika geologi Indonesia dan kaitannya dengan potensi gempa, tsunami, erupsi gunung api, serta ancaman lainnya. Menurutnya, pemahaman terhadap karakter wilayah menjadi dasar penting sebelum menentukan arah pemanfaatan ruang.

 

Ia membahas hubungan antara bahaya, kerentanan, keterpaparan, dan kapasitas masyarakat. Keberadaan ancaman perlu dilihat bersama kondisi penduduk, permukiman, lahan pertanian, ternak, serta aktivitas ekonomi yang berpotensi terdampak.

 

Melalui contoh Merapi dan wilayah Purworejo, Arry menunjukkan bahwa ancaman dapat berbeda meskipun berada dalam satu wilayah administratif. Kawasan berlereng memiliki potensi longsor, sedangkan dataran rendah dan kawasan pesisir menghadapi ancaman lain yang membutuhkan pendekatan perencanaan berbeda.

 

Pengetahuan tersebut perlu diterjemahkan ke dalam perencanaan, pemanfaatan, dan pengendalian ruang. Mahasiswa juga diajak mempelajari peta, dokumen tata ruang, sejarah kejadian bencana, serta pengetahuan lokal agar rencana yang disusun sesuai dengan kondisi wilayah dan kebutuhan masyarakat.

 

Belajar dari Merapi dan Polandia

 

Gardyas Bidari Adninda, yang akrab disapa Ninda, melanjutkan pembahasan dengan menekankan kemampuan masyarakat untuk beradaptasi dan bangkit setelah mengalami gangguan.

 

“Tahan saja tidak cukup,” ujarnya.

 

Ninda menjelaskan bahwa ketangguhan juga mencakup kemampuan menyerap dampak, memulihkan kehidupan, dan belajar dari pengalaman. Ia mengangkat pemulihan masyarakat Petung setelah erupsi Merapi 2010 sebagai salah satu contoh.

 

Kehilangan rumah dan sumber penghidupan mendorong warga mencari kegiatan ekonomi baru melalui pengembangan wisata. Menurut pemaparannya, warga terlibat dalam pendanaan, pembangunan, hingga pengelolaan usaha wisata yang kemudian membuka pekerjaan dan menghasilkan pendapatan bagi masyarakat.

 

Kepercayaan antarwarga, komunikasi yang terbuka, partisipasi, kepemimpinan, serta kemauan belajar menjadi modal penting dalam proses tersebut. Keterbukaan laporan pengelolaan dan penerapan aturan bersama turut membantu menjaga kepercayaan masyarakat.

 

Ninda juga membagikan pembelajaran dari pelatihan di Fire University, Warsawa, Polandia. Ia menceritakan bagaimana pendidikan petugas pemadam kebakaran didukung penelitian keselamatan, fasilitas laboratorium, latihan pertolongan medis, dan kesiapan unit penanganan darurat.

 

Pengalaman tersebut memperlihatkan pentingnya menghubungkan kemampuan masyarakat dengan sistem kelembagaan. Perencana dapat memfasilitasi keduanya melalui kebijakan dan dokumen perencanaan yang mempertimbangkan pencegahan, penanganan, hingga pemulihan pascabencana.

 

Menghubungkan Perencanaan dengan Kehidupan Masyarakat

 

Diskusi peserta mengangkat persoalan banjir rob di Sayung, kebakaran lahan gambut di Kalimantan, perencanaan kota di kawasan rawan bencana, serta kepercayaan dalam pengelolaan usaha bersama.

 

Pembahasan relokasi menyoroti keterkaitan tempat tinggal dengan pekerjaan dan keterampilan warga. Sementara itu, diskusi mengenai gambut menekankan pentingnya menjaga kondisi ekosistem, memantau ancaman, dan menyiapkan sumber daya penanganan.

 

Menutup diskusi, moderator menegaskan bahwa ketangguhan membutuhkan perpaduan pengetahuan wilayah, pengalaman masyarakat, riset, dan dukungan kelembagaan. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diajak membangun cara pandang perencanaan yang peka terhadap risiko sekaligus memperhatikan keberlanjutan kehidupan masyarakat.

 

Fadya RY – Direktorat Kehumasan dan Urusan Internasional