Dosen Program Studi S1 Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK), Fakultas Sains dan Teknologi (FST), Universitas AMIKOM Yogyakarta, Gardyas Bidari Adninda, S.T., M.A., mengikuti Erasmus+ Staff Mobility for Training di Fire University, Warsawa, Polandia, pada 12–16 Oktober 2026. Melalui pelatihan, kunjungan laboratorium, dan pengamatan lingkungan perkotaan, ia memperoleh wawasan mengenai penanganan bencana serta penyediaan layanan dan ruang publik.
Dosen yang akrab disapa Ninda tersebut mengikuti program tersebut bersama Eli Pujastuti, M.Kom., dari Program Studi S1 Informatika, Fakultas Ilmu Komputer, serta Aditya Maulana Hasymi, S.IP., M.A., dari Program Studi S1 Hubungan Internasional, Fakultas Ekonomi dan Sosial. Kegiatan ini merupakan bagian dari kerja sama Universitas AMIKOM Yogyakarta dengan Fire University melalui program Erasmus+.
Selama kegiatan, delegasi mengikuti pemaparan dosen dan mengunjungi empat laboratorium untuk mengenal pendidikan serta penelitian di bidang pemadam kebakaran dan penyelamatan. Bagi Ninda, yang memiliki ketertarikan pada kebencanaan, pengalaman tersebut memberikan bahan pembelajaran yang berkaitan dengan bidang PWK.
Memahami Penanganan Bencana secara Menyeluruh
Ninda melihat penanganan kebakaran sebagai bagian dari siklus kebencanaan yang menghubungkan mitigasi, kesiap-siagaan, tanggap darurat, dan pemulihan. Setiap tahap memerlukan persiapan agar risiko dapat dikurangi dan penanganan berjalan ketika bencana terjadi.
Salah satu hal yang menarik perhatiannya adalah penjelasan mengenai sistem alarm kebakaran yang terhubung dengan layanan pemadam. Fire University juga memiliki unit pemadam kebakaran sendiri yang melayani kawasan sekitar sekaligus menjadi tempat mahasiswa memperoleh pengalaman praktik.
Hubungan antara pendidikan dan pelayanan tersebut memperlihatkan bagaimana pengetahuan diterapkan dalam kebutuhan masyarakat. Mahasiswa mendapatkan kesempatan mengenal peralatan dan prosedur dalam lingkungan operasional.
Kunjungan laboratorium turut memperlihatkan luasnya pengetahuan yang dibutuhkan petugas. Peserta memperoleh pengenalan mengenai pengujian bahan mudah terbakar, penanganan medis darurat, serta penelitian perlengkapan keselamatan.
Ninda menyoroti pengujian pakaian dan helm pemadam untuk mengetahui kemampuan perlindungannya terhadap panas. Baginya, perhatian terhadap keselamatan petugas menjadi bagian penting dari sistem penyelamatan yang menyeluruh.
“Saya melihat mereka memikirkan secara utuh, dari keselamatan pemadam kebakaran, pengetahuan pemadam kebakaran, sampai petugas medisnya,” ujar Ninda.
Menjadikan Kota sebagai Ruang Belajar PWK
Pembelajaran Ninda juga berlangsung ketika mengamati kehidupan perkotaan di Kota Warsawa. Sebagai dosen PWK, ia memandang kunjungan ke berbagai kota sebagai kesempatan mempelajari bagaimana ruang dan layanan direncanakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
“Saya selalu bilang ke mahasiswa, kalau mahasiswa PWK, seringlah jalan-jalan. Karena ketika itu kita mengobservasi living lab,” tuturnya.
Menurutnya, setiap kota memiliki karakteristik berbeda yang dapat menjadi bahan pengamatan. Pengalaman langsung membantu mahasiswa mengenali hubungan antara perencanaan dengan aktivitas masyarakat sehari-hari.
Di Warsawa, perhatian Ninda tertuju pada konekrivitas transportasi umum. Ia menceritakan pengalaman berpindah menggunakan trem, metro, dan bus dengan titik perpindahan yang saling mendukung.
Mereka juga menggunakan tiket 24 jam untuk melakukan beberapa perjalanan dengan moda yang tersedia. Pengalaman tersebut memberikan gambaran mengenai pentingnya integrasi rute, perpindahan moda, dan pembayaran dalam mendukung mobilitas masyarakat.
Selain transportasi, Ninda mengamati ketersediaan taman dan ruang terbuka publik. Ruang tersebut memberikan tempat bagi masyarakat untuk bertemu, berbincang, dan beraktivitas tanpa harus menggunakan tempat komersial.
Bagi pembelajaran PWK, pengamatan ini menjadi bahan refleksi mengenai akses masyarakat terhadap ruang bersama. Perencanaan kota berkaitan dengan kebutuhan warga untuk bergerak, berinteraksi, dan menjalani kehidupan sehari-hari dengan nyaman.

Membuka Pengalaman Internasional bagi Mahasiswa FST
Kelanjutan kerja sama dengan Fire University juga mencakup mobilitas mahasiswa. Ninda menyampaikan bahwa dua mahasiswa direncanakan mengikuti pembelajaran selama satu semester pada spring semester 2027, yaitu Seno dari Informatika dan Amar dari Arsitektur, FST.
Ia berharap kesempatan tersebut memberikan pengalaman akademik sekaligus membangun kemandirian. Mengurus dokumen, melakukan perjalanan, menyesuaikan tempat tinggal, dan menghadapi perbedaan bahasa merupakan bagian dari proses belajar yang akan mereka jalani.
“Harapannya mereka bisa lebih tangguh, menjadi mahasiswa yang lebih tangguh atau manusia yang lebih tangguh setelah itu,” ujar Ninda.
Ninda juga melihat peluang mengembangkan kerja sama melalui penelitian kebencanaan, mobilitas dosen, serta penyusunan modul atau kelas bersama. Pertemuan dengan peserta dari Kosovo dan Bulgaria membuka kesempatan untuk memetakan bidang kolaborasi berikutnya.
Melalui pengalaman di Fire University dan pengamatan Kota Warsawa, Ninda membawa perspektif yang menghubungkan keselamatan, mobilitas, dan kebutuhan ruang masyarakat. Wawasan tersebut menjadi bahan pengayaan bagi pembelajaran di FST, khususnya dalam memahami perencanaan wilayah dan kota melalui kondisi nyata di lapangan.

Fadya RY – Direktorat Kehumasan dan Urusan Internasional
Koresponden : Gardyas Bidari Adninda